03 Mei 2021

opini musri nauli : Kanda Irmansyah yang kukenal (2)

“Dindo, ke kantor, ya”, kata Pak Irmansyah diseberang telephone. 


“Siap, kando”, kataku. Akupun mengiyakan. Sama sekali tidak  terpikir jarak yang mesti ditempuh. 

Saat itu Beliau diminta menjadi Direktur Konflik dan Hutan Adat Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Sedangkan saya Sedang bertugas di Badan Restorasi Gambut. 


Melihat sore hari menjelang jam 5 sore, segera saya bergegas. Menggunakan aplikasi go-jek, sayapun merapikan tas. Bergegas ke Kantor KLHK. 


Terbayang jam 5 sore. Dipuncak jam-jam macet. Sepeda motor meliuk-liuk diantara kemacetan. Hampir 30 menit dari Kantor BRG di Teuku Umar ke KLHK yang terletak Jln. Gatot Subroto. 


Kadangkala iseng-iseng kupikir. Apakah beliau merasa masih di Jambi. Tinggal telephone. Paling-paling di seputaran Telanaipura. Maksimal waktu 15-20 menit. 


Ha.. ha.. ha.. 


Setelah rehat sejenak, beliau kemudian menyampaikan laporan Walhi yang sempat mandeg di KLHK. Beliau kemudian berkeinginan bertemu dengan Direktur Walhi Kaltim dan Direktur Walhi Sumsel. Dua laporan yang memprioritaskan akan diselesaikan. 


Setelah berkoordinasi dengan Mbak Yaya, Direktur Walhi, kamipun mengagendakan pertemuan. 


Dengan agenda, Kando Irmansyah yang datang ke Walhi yang berada di Tegal Parang. Sekaligus bertemu dengan Direktur Walhi Kaltim dan Direktur Walhi Sumsel. 



Setelah waktu ditentukan, Kando Irmansyah kemudian datang ke Walhi. Ternyata disana sudah ada Direktur Walhi Kaltim, Direktur Walhi Sumsel, Direktur Walhi Jambi, Direktur Walhi Jakarta dan Dir Eknas Walhi. 


Suasana kelakarpun terasa di Walhi. Sebagai “orang Palembang”, karena dia sekolah di Palembang dan kerja di Palembang, suasana guyup, kebersamaan lebih kental dibandingkan merancang pertemuan di tiap-tiap provinsi. Suasana lebih “mirip” kelakar sesama orang Lingkungan Hidup dibandingkan antara LSM dan birokrasi. Tiada sekat. 


Setelah selesai acara, sembari ke mobil, beliau berbisik kesana. “Enak di Walhi nih. Walaupun terkenal Organisasi yang besar, namun apabila dipanggil Direktur, semua Direktur Daerah langsung datang”, katanya. 


Akupun tertawa Ngakak. Bukan semata-mata urusan birokrasi membuat kami bisa berkomunikasi. Namun dengan cara menempatkan diri sebagai “orang Daerah” yang membuat komunikasi menjadi nyaman. 


Hingga Sekarang, entah bagaimana cara kami harus menentukan sikap. Tapi bagiku, Eknas Walhi adalah “induk semang”. Apabila “induk semang” memanggil, tiada alasan untuk tidak datang. Mungkin pikiran inilah yang bisa menjelaskan. Bagaimana ketika rencana kedatangan Kando Irmansyah ke Walhi, kemudian disahuti oleh berbagai daerah ke Jakarta.  Dengan cara menyambutnya di Kantor Eknas. 


Rencana kemudian berlanjut. Tanpa harus ba-bi-bu, Kando Irmansyah kemudian mendatangi Ke Balikpapan dan Palembang. Melanjutkan proses yang sempat terhenti. 



Alhamdulilah. Ada kemajuan. Perkembangan semuanya “on process”. Proses yang kemudian dilanjutkan oleh para pengganti pejabat setelahnya. 




Terlepas dari Seluruh proses yang telah dijalani, hubungan personal masih terus dilanjutkan. Disela-sela kegiatan di Jakarta, saya berkesempatan dengan teman-teman untuk sekedar silahturahmi. Entah mampir ke kantor ataupun kemudian bisa sambil “ngaso” ke rumah beliau. 


Alhamdulilah. Akhirnya tunai juga tugas diberikan. Menjelang masuk bulan Mei, Aku mendapatkan kabar. Beliau kemudian memasuki purna tugas. Gemilang dan sukses melewati berbagai prahara. 


Alhamdulilah. Sebagai adik yang telah lama mengenalnya, namun akhir-akhir ini kemudian mengikuti perjalanan dinas Kando Irmansyah membuat saya menjadi bangga. 


Bertemu dengan birokrasi yang Tetap terilkat dangan aturan/norma namun luwes bergaul. Bahkan mampu diterima diberbagai kalangan. 


Keunikan yang mungkin Sudah jarang saya temukan. 


Terima kasih, Kando. 


Medan Terbuka dan tangan terbuka lebar kedatangan kando. 


Baca : Kanda Irmansyah yang kukenal