12 Juli 2013

opini musri nauli : Menulis





Ya. Menulis merupakan pekerjaan mencatat peristiwa demi peristiwa. Dengan menulis, kita mengetahui bagaimana perjalanan Cristopher Colombus sebagai orang yang mengenalkan benua Amerika. Benua Amerika sendiri mengambil nama dari pelaut Spanyol yang bernama Amerigo Vespucci.

Ya. Kita kemudian mengenal catatan Marco Polo dikenang berkat narasi warna-warni nan populer tentang perjalanannya ke timur, yang dikenal sebagai "The Travels of Marco Polo."

Dengan menulis, kita mengetahui bagaimana Catatan dari I-Tsing, seorang pendeta Budha yang juga pengembara pada zaman Dinasti Ming, menyebutkan bahwa ia telah berkunjung ke Candi Muara Jambi dan bermukim selama 6 bulan. “Di suatu tempat di tepi sungai, tanpa bayang-bayang pada tengah hari, terletak antara Daratan Tiongkok dan India, terdapat beribu-ribu pendeta menuntut ilmu…..”

Begitu juga catatan Tan Malaka dalam auto biografinya dari Penjara ke Penjara yang ditulis pada tahun 1948

Begitu Catatan Seorang Demonstran (atau Catatan Harian Seorang Demonstran) adalah buku harian seorang aktivis mahasiswa bernama Soe Hok Gie yang diterbitkan pada tahun 1983.

Mengapa menulis itu penting ?

Dengan menulis kita mengetahui semangat Kartini ketika menulis surat kepada Abendanon. Buku itu diberi judul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya "Dari Kegelapan Menuju Cahaya". Kita kemudian mengenal bagaimana pandangan dari R. A Kartini yang membuat kagum bangsa Belanda.

Dengan menulis kita bisa mengetahui letusan Krakatau Purba yang diambil dari sebuah teks Jawa Kuno yang berjudul Pustaka Raja Parwa yang diperkirakan berasal dari tahun 416 Masehi. Isinya antara lain menyatakan “Ada suara guntur yang menggelegar berasal dari Gunung Batuwara. Ada pula goncangan bumi yang menakutkan, kegelapan total, petir dan kilat. Kemudian datanglah badai angin dan hujan yang mengerikan dan seluruh badai menggelapkan seluruh dunia. Sebuah banjir besar datang dari Gunung Batuwara dan mengalir ke timur menuju Gunung Kamula.... Ketika air menenggelamkannya, pulau Jawa terpisah menjadi dua, menciptakan pulau Sumatera”

Dengan mudah kita mengetahui letusan Tambora dalam memoarnya Sir Thomas Raffles kemudian menjadi Gubernur Jendral Bengkulu. Saat letusan itu terjadi, Raffles dalam memoirnya, bahwa dentuman terjadi setiap 15 menit sekali dan berlangsung terus di hari berikutnya. Sehingga satu detasemen prajurit di persiapkan dari Jogjakarta untuk mengantisipasi kemungkinan serangan. Letusan pertama terdengar di pulau ini pada sore hari tanggal 5 April, mereka menyadarinya setiap seperempat jam, dan terus berlanjut dengan jarak waktu sampai hari selanjutnya. Suaranya, pada contoh pertama, hampir dianggap suara meriam; sangat banyak sehingga sebuah detasemen tentara bergerak dari Djocjocarta, dengan perkiraan bahwa pos terdekat diserang, dan sepanjang pesisir, perahu-perahu dikirimkan pada dua kesempatan dalam pencarian sebuah kapal yang semestinya berada dalam keadaan darurat.

Begitu banyak catatan penting mengenai bumi dan kehidupan sebelum kita dengan melihat catatan penyaksi sejarah. Mereka tekun menulis setiap detail peristiwa demi peristiwa. Mereka sadar. Yang ditulis, mungkin pada zamannya belum berarti apa-apa. Tapi akan mudah ditelusuri generasi sebelumnya. Generasi selanjutnya tidak kehilangan jejak untuk mengetahui peristiwa sebelumnya.

Sebuah peristiwa boleh saja menjadi polemik. Karena sejarah adalah milik mereka yang mencatat. Tapi dengan menulis, generasi selanjutnya tidak akan kehilangan arah. Mereka mudah mengikuti perkembangan sejarah masa lalu.

Pramudya Ananta Toer pernah menyebutkan "Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.

Dalam sebuah website online harian terkemuka disebutkan, Kegemaran membaca atau menulis sejak kecil hingga dewasa ternyata bisa memberikan manfaat di usia tua. Penelitian menunjukkan bahwa orang yang aktif menggunakan otak untuk membaca, berpikir, dan menulis memiliki otak yang tetap cemerlang ketika mereka tua.

Dengan melihat pentingnya menulis, maka mulai sekarang menulislah. Tidak perlu tulisan itu akan menjadi headline ataupun menjadi polemik dalam sebuah peristiwa. Tapi dengna menulis kita akan dikenang oleh sejarah. Dan yang pasti, kita akan memiliki otak yang tetap cemerlang ketika kita menjadi tua.