11 Juni 2026

Andaikata Aku punya duit 20 milyar dolar Amerika

 



Pertama-tama, mari kita akui: 20 miliar dolar AS adalah angka yang tidak bisa benar-benar “dibayangkan” oleh otak manusia biasa. Bagi kebanyakan orang, selisih antara 2 miliar dan 20 miliar terasa sama-sama “sangat besar”. Tapi ketika Anda mengonversinya menjadi jumlah rudal, kampus, atau kapal induk—barulah terasa absurditas kekuatan uang ini.

Jika uang itu benar-benar ada di rekeningku, maka saya berada dalam posisi yang langka dan sedikit gila: uang saya setara dengan APBD sebuah provinsi besar di Indonesia selama 5–10 tahun, tapi tanpa beban birokrasi, tanpa DPR, tanpa laporan pertanggungjawaban.

Di satu sisi, saya bisa membangun 40 hingga 100 universitas kelas dunia. Bayangkan: seratus pusat pendidikan tinggi yang bisa mencetak generasi peneliti, insinyur, dan dokter. Itu adalah waraban yang akan mengubah wajah bangsa selama 50 tahun ke depan. Saya bisa mengakhiri kemiskinan pengetahuan di ratusan kabupaten.

Di sisi lain, dengan uang yang sama, saya bisa membeli lebih dari 200 jet tempur siluman F-35 atau satu armada kecil kapal induk. Saya tidak sedang bercanda: dengan 20 miliar dolar, kekuatan udara saya akan melampaui 90% negara di dunia. Saya bisa memulai perang, atau setidaknya membuat tetangga tidak berani bernapas terlalu kencang.

Simulasi “paket campuran” dalam data di atas mencoba bersikap moderat: 1 kapal induk, 60 jet tempur, 1.000 rudal, dan 12 kampus. Tapi saya merasa itu skizofrenia. Kapal induk tanpa pangkalan militer yang kuat dan rantai logistik bukanlah kapal induk—itu hanya sasaran empuk. Rudal tanpa sistem komando dan perang elektronik hanya besi terbang mahal.

Sementara itu, 12 kampus memang hebat, tapi tanpa biaya operasional tahunan, mereka hanya gedung-gedung megah yang diam.

Maka, inilah keputusan saya jika benar-benar punya 20 miliar dolar AS. Saya tidak akan membeli satu pun rudal atau jet tempur.

Saya juga tidak akan membangun kapal induk.

1. Menghabiskan 10 miliar dolar untuk endowment (dana abadi) pendidikan. Dengan pengelolaan yang hati-hati, return 5% per tahun saja sudah menghasilkan 500 juta dolar (sekitar Rp9 triliun) per tahun—cukup untuk membiayai beasiswa penuh bagi 200.000 mahasiswa setiap tahun, selamanya.

2. Menggunakan 5 miliar dolar untuk membangun 5 pusat riset teknologi terapan (AI, energi, pertanian tropis) yang terintegrasi dengan industri, bukan universitas umum.

3. Menyisihkan 3 miliar dolar untuk sistem kesehatan preventif dan air bersih di 1.000 desa terpencil.

4. 2 miliar dolar sisanya saya simpan sebagai dana darurat—bukan untuk perang, tapi untuk bantuan bencana atau krisis pangan mendadak.

Mengapa tidak ada senjata? Karena dengan 20 miliar dolar, saya bisa membeli yang jauh lebih kuat dari rudal: pengaruh diplomatik, reputasi global, dan utang budi dari jutaan manusia. Negara mana pun akan berpikir dua kali untuk menyerang negeri yang dikenal sebagai “pusat beasiswa dunia” atau “laboratorium kemanusiaan”.

Pada akhirnya, 20 miliar dolar adalah sebuah pertanyaan moral yang dibungkus dengan angka nol. Apakah Anda akan menjadi tiran mini dengan 200 jet tempur, atau menjadi filantropis yang namanya dikenang di prasasti universitas? Saya pilih menjadi kenangan, bukan ketakutan.