05 Juni 2026

Launcing Buku Jambi dan Gambut

 


Dokumen nih lama tergeletak, berserakkan, berdebu dan bahkn nyaris terlupakan.
Menguraikan sembari diiris2, ditemgah mobilitas tugas utama membuat kemudian tersendat oleh waktu.
Namun, terlepas kekurangannya, tugas harus ditunaikan.. pekerjaan harus diselesaikan dan mimpi harus diwujudkan..
Terlepas waktu yg sempat berlarut2, buku ini adlh “tanggungjawab intelektual, ketika menunaikan tugas di tema gambut..
Perjalanan panjang, mulai advokasi kebakaran, kampanye kerusakan gambut sampai kemudian meneguhkan pandangan.. 14 tahun tenggelam dalam kesunyian..
Rakyatlah sumber ilmu pengetahuan.. standing yang tdk berubah.. dan semakin kukuh ketika malah bekerja di lembaga negara..
Namun apapun crita, ketika sdh berupa karya, ada adrenalin yg harus terus diasah.




Makna Simbolik Seloko Adat Melayu Jambi - Di Atas Tidak Berpucuk, di Bawah Tidak Berakar, Kalau di Tengah Ditebuk Kumbang”

 


Seloko adat Melayu Jambi bukan sekadar untaian kata berima yang estetis, melainkan sebuah manifes hukum, moralitas, dan pandangan hidup masyarakatnya. Menggunakan pendekatan semiotika (ilmu tentang tanda), kita dapat mengurai bagaimana alam—seperti pohon, langit, bumi, dan serangga—dijadikan metafora konkret untuk menjelaskan konsep abstrak mengenai sanksi sosial, pengucilan, dan hilangnya perlindungan hidup akibat pelanggaran adat yang berat. Untaian seloko “Di atas tidak berpucuk, di bawah tidak berakar, kalau di tengah ditebuk kumbang” merupakan salah satu bentuk peringatan sekaligus hukuman kosmik (tulah) yang paling ditakuti dalam tatanan adat Melayu Jambi. Berikut adalah analisis makna simbolik dari ketiga fragmen seloko tersebut berdasarkan struktur penanda, petanda, ikon, denotasi, hingga mitos budaya yang melingkupinya.