05 Maret 2021

opini musri nauli : Orang Gila di sekitar kita


 
Ketika membaca berita media online tentang seorang perempuan yang mengajar Mengaji disekitar rumahnya 30 tahun lebih dan tidak menerima pembayaran, ingatan saya melayang tayangan Metrotv beberapa tahun yang lalu.

Seorang perempuan kelas menengah bersuamikan seorang DIrektur BUMN ternama yang hidupnya sudah mapan. Hidup berkecukupan dan mapan. Tinggal di perumahan elite di Jakarta.

Setelah seluruh anaknya kemudian berhasil dan bekerja diluarnegeri, tinggallah dia dan suaminya.

Entah mengapa, keinginan untuk mengajar murid SD semakin kuat. Dengan latarbelakang pendidikan Guru yang kemudian tidak dilanjutkan mengikuti tugas suami yang berpindah satu kota kekota yang lain, keinginan mengajar begitu kuat.

Semula hanya mengisi waktu kosong setelah mengantarkan suaminya kerja. Waktu senggang yang kemudian tidak mau dihabiskan percuma.

Dia buka ijazah yang mulai menguning. Dia kumpulkan bahan ajar. Dia kumpulkan materi-materi hingga kemudian dia menetapkan untuk mengajar.

Pelan-pelan dia kemudian mengumpulkan anak-anak kolong yang tinggal dibawah jembatan layang. Hidup digaris kemiskinan. Rata-rata anak-anak terlantar. Jauh dari akses kesehatan. Apalagi pendidikan.

Dibuatlah ruangan kertas dari triplek dan karton-karton bekas. Mulai dari 2-3 murid. Akhirnya satu kelas. Setahun kemudian hingga kelas 2.

10 tahun kemudian mencapai kelas 6. Dibayar honor para relawan yang rela membantunya. Bahkan baju sekolah, sepatu dan buku ajar dia sendiri membelikan.

TIdak cukup hanya itu. Bahkan untuk mengikuti ujian standar nasional, dia keluarkan biaya pendaftaran Sekolah Negeri hingga lulus SD.

Semuanya biaya yang dikocek dari kantong sendiri.

Saya terbengong-bengong menyaksikan tayangan metrotv. Sambil mengucek-ngucek mata, saya tidak percaya.

Bagaimana mungkin. Seorang perempuan dari kalangan elite rela menyusuri jalan kumuh, becek dibawah jembatan layang. Rela mengajar tanpa pamrih. Bahkan rela mengeluarkan uangnya sendiri. Apakah tidak mau menikmati kekayaan dari suaminya yang terpandang ?

Saya kemudian menyebutkan sebagai “orang gila’. Orang gila yang tidak mau memikirkan perkataan orang lain. Dan lebih mementingkan nuraninya. Untuk mengajar apa yang bisa dilakukan.

Kisah yang lain. Seorang bapak tua. Yang rela setiap hari menanam pohon disekitar Desanya yang tandus. Sendirian. Selama 30 tahun lebih.

Tidak perlu banyak teori mengapa dia melakukannya. Hanya sederhana. Agar hutan disekitar desanya kembali rimbun.

Kisah-kisah tentang anak muda yang rela membuat perpustakaan didesa. Atau seorang pedagang kecil yang membangun sekolah untuk anak-anak disekitarnya adalah kisah-kisah “orang gila’. Orang gila yang kemudian kita sadar. Mengapa Indonesia begitu kaya mempunyai “orang gila”.

Di Jambi sendiri saya juga menemukan banyak orang yang melakukan yang tidak terpikirkan oleh kita sendiri.

Lihatlah. Aura anak muda yang masih berkutat dikampus, masih memikirkan ujian semester, di saat usia mereka yang masih hobby hidup didunia gadget kemudian meninggalkan semuanya.

Ada seorang anak muda yang “gila”. Dengan papan kecil di kostnya. Dia menerangkan tentang Epistemologi, alam filsafat, nilai-nilai kehidupan. Muridnya mahasiswa yang silih berganti.

Ada juga komunitas yang Menggelar lapak. Menjajakan buku setiap malam minggu.

Bayangkan.

Saat saya berusia seperti mereka, hidup saya masih hura-hura. Sibuk memikirkan bagaimana “mencuri” waktu, mengakali matakuliah agar tetap mendaki gunung.

Atau touring ramai-ramai nonton cross hingga ke Lubuk Linggau atau ke Solok. Dunia yang masih ramai-ramai nongkrong sembari bergadang kumpul dengan kawan-kawan seusianya.

Malam minggu merupakan malam istimewa bagi muda-mudi, malam bersuka cita, hura-hura bahkan menikmati pesta malam minggu yang istimewa.

Mereka adalah orang gila. Yang berfikir melampau zaman. Yang membangun jalan sendiri. Sepi. Sendiri. Tanpa harus menerima puja-puji.

Setiap malam minggu. Disaat muda-mudi menikmati gemerlap lampu ibukota, mereka menggelar buku. Berjejer-jejer. Persis pedagang asongan.

Entah apa yang menjadi motivasi yang kuat hingga mereka melakukannya. Namun yang kutahu pasti. Mereka hanya berkeinginan agar buku yang dibaca membuka tentang dunia. Cakrawala berfikir untuk mengetahui peradaban

Kisah tentang orang gila di Indonesia memang begitu banyak. Dia hidup disekitar kita.

Dan berbahagialah kita yang dapat menikmati kegilaan anak muda.