05 Juni 2026

Makna Simbolik Seloko Adat Melayu Jambi - Di Atas Tidak Berpucuk, di Bawah Tidak Berakar, Kalau di Tengah Ditebuk Kumbang”

 


Seloko adat Melayu Jambi bukan sekadar untaian kata berima yang estetis, melainkan sebuah manifes hukum, moralitas, dan pandangan hidup masyarakatnya. Menggunakan pendekatan semiotika (ilmu tentang tanda), kita dapat mengurai bagaimana alam—seperti pohon, langit, bumi, dan serangga—dijadikan metafora konkret untuk menjelaskan konsep abstrak mengenai sanksi sosial, pengucilan, dan hilangnya perlindungan hidup akibat pelanggaran adat yang berat. Untaian seloko “Di atas tidak berpucuk, di bawah tidak berakar, kalau di tengah ditebuk kumbang” merupakan salah satu bentuk peringatan sekaligus hukuman kosmik (tulah) yang paling ditakuti dalam tatanan adat Melayu Jambi. Berikut adalah analisis makna simbolik dari ketiga fragmen seloko tersebut berdasarkan struktur penanda, petanda, ikon, denotasi, hingga mitos budaya yang melingkupinya.

Berdasarkan analisis Ferdinand de Saussure, penanda dari frasa ini adalah kondisi visual sebuah pohon yang tidak memiliki pucuk atau daun muda di bagian atasnya, sedangkan petandanya adalah konsep hilangnya perlindungan spiritual, berkah, atau nasib baik dalam hidup. Menurut Charles Sanders Pierce, ikon dari frasa ini berupa pohon yang gundul tanpa pucuk, sementara secara simbolik ia melambangkan prinsip pengucilan dari langit. Adapun menurut Roland Barthes, secara denotasi frasa ini berarti ketiadaan perlindungan dari arah atas, namun secara konotasi dan mitos ia berbicara tentang mitos hukuman langit: orang yang melanggar janji atau hukum adat yang sakral diyakini akan dikutuk oleh kekuatan spiritual, doanya tidak didengar, dan hidupnya kehilangan arah serta keberkahan ilahi.

Dalam kerangka Saussure, penanda frasa ini adalah kondisi pohon atau tanaman tanpa akar yang menghujam ke bumi, sedangkan petandanya adalah hilangnya perlindungan material, finansial, maupun dukungan sosial dari komunitas sekitar. Menurut Pierce, ikonnya adalah pohon yang tumbang atau tercabut dari tanah karena tidak memiliki akar, dan secara simbolik frasa ini merepresentasikan prinsip kualat atau plali (pengucilan dari bumi). Barthes menafsirkan bahwa secara denotasi frasa ini berarti tidak adanya perlindungan atau fondasi dari bawah, sementara secara konotasi dan mitos ia merujuk pada mitos hukuman bumi. Dalam kehidupan nyata, pelanggar adat akan kehilangan hak-hak dasarnya atas tanah dan ruang sosial. Ia tidak lagi diakui oleh sanak saudara, tidak mendapat bantuan saat kesusahan, dan diasingkan dari struktur kekerabatan—bagaikan manusia yang tidak menapak di bumi.

Berdasarkan Saussure, penanda dari frasa ini adalah ancaman fisik seekor kumbang atau serangga perusak yang melubangi batang pohon tepat di bagian tengahnya, sedangkan petandanya adalah keberadaan ancaman internal atau kehancuran yang datang dari dalam diri atau komunitas sendiri. Menurut Pierce, ikonnya berupa serangga yang menggerogoti kayu secara sembunyi-sembunyi hingga keropos, dan simbolnya melambangkan prinsip bahaya internal atau intrik. Adapun menurut Barthes, secara denotasi frasa ini berarti kondisi rusak, lapuk, dan hancur dari dalam, sementara secara konotasi dan mitos ia mengandung mitos pengkhianatan atau hukuman tulah. Batang yang ditebuk kumbang akan terlihat utuh dari luar, namun sebenarnya rapuh dan siap tumbang kapan saja. Ini merepresentasikan nasib buruk berupa konflik batin, rasa bersalah yang menggerogoti, atau pengkhianatan dari orang-orang terdekat sebagai akibat dari karma melanggar hukum adat

Secara utuh, seloko “Di atas tidak berpucuk, di bawah tidak berakar, kalau di tengah ditebuk kumbang” menggambarkan sebuah kondisi keputusasaan dan kehancuran total (totalitas pengucilan kosmik). Adat Melayu Jambi menempatkan manusia dalam harmoni segitiga: hubungan dengan Tuhan atau langit, hubungan dengan sesama manusia atau bumi, dan keutuhan integritas diri atau internal. Ketika seseorang dijatuhi sanksi ini—atau terkena tulah adat—ia berada dalam posisi serba salah dan terkatung-katung. Ia tidak memiliki tempat bersandar di atas (spiritual), tidak memiliki fondasi di bawah (sosial-ekonomi), dan digerogoti oleh kehancuran di tengah (moral atau internal). Melalui simbol-simbol alam yang sederhana ini, leluhur Jambi berhasil merumuskan sebuah sistem kontrol sosial yang sangat kuat demi menjaga kelestarian moral, keadilan, dan keharmonisan di tengah dusun.