02 April 2021

opini musri nauli : Belajar dari Kampung (7)

 



Virus Corona membuat “dunia geger”. Tidak ada satupun kejadian dunia “segeger” virus Corona. Dunia kemudian “bersatu”, panik dan mulai merasakan “ketidakberdayaannya”. 


Tiba-tiba Tuhan menunjukkan kekuasaannya. Dengan berdiameter sekitar 100 nm, Virus Corona telah membuktikan kepada manusia. Dengan tingkat penyebarannya yang luar biasa menyebabkan manusia tidak ada apa-apanya dihadapan Tuhan. Tuhan kemudia menunjukkan kekuasaannya melalui corona. 


Virus Corona tidak mengenal tempat sebagaimana terjadi di Vatikan, Yerussalam ataupun Mekkah. Virus Corona tidak mengenal manusia yang menganut agama apapun. Virus corona tidak pernah bertanya. Semuanya kemudian merasakan “getahnya”. 


Di Indonesia sendiri, dengan “pondasi” kebudayaan adiluhung, dengan pengetahuan dari nenek moyang yang telah mengajarkan “melewati” proses ini, sudah saatnya kita harus bangkit. Kita “tidak mungkin” hidup dalam ketakutan yang justru akan menurunkan mental dan justru menimbulkan persoalan baru diluar akibat pandemik corona. 


Berbagai ramuan dan rempah-rempah yang merupakan bagian dari kehidupan kita sudah saatnya kita tampilkan. Sebagai jatidiri bangsa yang berbudaya. 


Mari kita mengenalkan sembari mempromosikan “ramuan” yang mengandung “imun” untuk melawan virus corona. 


Masa inkubasi 14 hari sudah dilewati dengan baik di Indonesia. Angka kisaran 1000 orang dibandingkan dengan 250 juta jumlah penduduk di Indonesia adalah fakta. Tidak perlu lagi berdebat tentang itu. 


Mari kita tutup wacana dari kelas elite yang “sibuk menggurui” kita tentang “ancaman virus corona”. Mereka tidak mau mengakui tentang kebudayaan Indonesia. Mereka sibuk “menyalin” teror virus corona dan kemudian menakut-nakuti masyarakat Indonesia. 


Teruslah berkabar tentang kebudayaan adiluhung Indonesia. Teruslah mengabarkan berbagai masakan Indonesia. Dilengkapi dengan “bumbu-bumbu” dan rempah-rempah. Sembari terus mengabarkan “kekuatan dahsyat” ramuan Indonesia. 


Tagarkan “kami melawan”. Atau tagar “Masakan Indonesia”. 


Mari kita bangkit. Mari kita melawan