Tanggal 2 Oktober 2024, pukul 07.08 pagi. Saya menekan tombol kirim pesan kepada Dr Jafar Ahmad, Isinya sederhana: permohonan untuk berkenan menuliskan kata pengantar bagi buku saya yang berjudul Politik Jambi 2020–2024.
Namun alangkah terkejutnya saya. Di hari yang sama, ketika jarum jam baru menunjukkan pukul 09.57—nyaris belum genap tiga jam sejak saya mengirim pesan—jawaban itu datang. Beliau sudah mengirimkan naskah kata pengantar.
Lengkap. Rapi. Berisi. Saya benar-benar kaget. Bukan main.
Bayangkan: di tengah hiruk-pikuk tugasnya sebagai Rektor IAIN Kerinci, di tengah derasnya tuntutan administratif, rapat-rapat koordinasi, dan berbagai agenda kenegarawanan, beliau masih menyisakan ruang untuk menulis. Menulis dengan kepala dingin, dengan gagasan jernih.
Itu bukan sekadar menulis tanggapan singkat; itu menuliskan buah pikir yang mendalam tentang politik, kekuasaan, dan kesejahteraan rakyat. Saya tersentak.
Saya pun tersadar: inilah hakikat seorang guru besar—bukan karena jabatan. Melainkan karena tanggung jawab intelektual yang tak pernah padam.
Saya benar-benar kaget. Dr. Jafar Ahmad adalah figur yang tak asing di kancah publik. Pernah menjabat sebagai Ketua Ombudsman Republik Indonesia Perwakilan Jambi, kemudian dipercaya memimpin IAIN Kerinci sebagai rektor.
Di mata publik, ia adalah “orang penting”—orang yang jadwalnya padat, yang waktunya diperebutkan banyak pihak.
Namun justru dari kesibukan yang luar biasa itulah ia hadir dengan karya. Tidak ada alasan. Tidak ada penundaan. Tidak ada kata “tunggu”.
Ketika intelektualitas telah menjadi napas hidup, kesibukan bukanlah penghalang, melainkan panggung untuk berkarya.
Bayangkan kembali. Menulis bukanlah pekerjaan fisik semata. Menulis butuh konsentrasi, butuh dialog batin, butuh tanggung jawab atas setiap kalimat yang disusun.
Dan di sela-sela itu, beliau tetap mengemban amanat sebagai pemimpin institusi pendidikan tinggi. Saya membayangkan bagaimana mungkin beliau membaca draf buku saya. Pagi harinya, sebelum jam sembilan, beliau sudah menuangkan pemikirannya dalam sebuah kata pengantar yang berbobot.
Itu bukan kebetulan. Itu disiplin. Itu komitmen. Seorang guru besar bukanlah sekadar profesor yang disegani karena gelar, melainkan seorang yang tetap haus menulis, tetap kritis merenung, tetap rendah hati membagikan ilmunya.
Tidak ada jabatan yang cukup tinggi untuk membuatnya berhenti berpikir. Tidak ada gelar yang cukup gemilang untuk memadamkan semangat menulisnya.
Nah, untuk menyegarkan ingatan, izinkan saya mengutip dan merangkum bagian penting dari kata pengantar yang beliau tulis.
“Politik adalah perebutan kekuasaan, hampir selalu begitu. Namun sebenarnya politik itu adalah upaya manusia untuk mencapai tujuan bersama, kesejahteraan. Politik bukan hanya soal siapa yang duduk di kursi teratas, tetapi bagaimana kekuasaan itu digunakan untuk mengelola sumber daya yang ada, yang pada akhirnya berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.”
Demikian kalimat pembuka dalam kata pengantar tersebut. Dr. Jafar kemudian menguraikan bagaimana buku saya lahir dari realitas politik Jambi yang dinamis, khususnya pada Pilkada 2020–2024. Menekankan bahwa kontestasi di Jambi bukan sekadar pesta demokrasi, melainkan pertarungan besar menentukan siapa yang layak mengelola kekayaan alam dan sumber daya provinsi.
Beliau mengapresiasi bagaimana buku ini membongkar “panggung belakang” politik Jambi, memberikan wawasan kritis tentang strategi pencitraan para kandidat, dan menggugah kesadaran publik bahwa kepemimpinan harus diukur dari kompetensi, bukan sekadar popularitas.
Dalam kata pengantarnya, ia juga menyoroti bab “Kucing dalam Karung” yang menggambarkan kegelisahan beliau terhadap masyarakat yang memilih pemimpin tanpa mengetahui rekam jejaknya.
Menurutnya, masyarakat Jambi berhak memilih pemimpin yang mampu mengelola sumber daya publik secara adil dan berkompeten. Buku ini, lanjutnya, bukan sekadar catatan peristiwa, melainkan cermin bagi masa depan pembangunan Jambi.
Ditengah gemerlap gelar dan jabatan, Dr. Jafar Ahmad menunjukkan bahwa tugas intelektual tetap terjaga. Ia tidak terjebak dalam formalitas kekuasaan, tidak larut dalam gemerlap seremonial.
Ia tetap menjadi guru—yang besar bukan karena kursinya, melainkan karena pikirannya yang tak pernah berhenti bekerja untuk publik.
Ia mengajarkan kepada kita semua bahwa jabatan adalah amanat, dan amanat itu dipertanggungjawabkan tidak hanya melalui kebijakan, tetapi juga melalui tulisan.
Tidak ada yang menghalangi seorang intelektual untuk terus menulis, kecuali kemalasannya sendiri. Dan Dr. Jafar membuktikan sebaliknya: kesibukan justru memacu produktivitas.
Semoga pencapaian sebagai guru besar tidak akan menghalangi tugas-tugas intelektual ke depannya. Semakin tinggi jabatan, semakin besar tanggung jawab moral untuk berpikir jernih dan menulis dengan jujur.
Kita membutuhkan lebih banyak pemimpin seperti beliau—yang tetap menulis, tetap mengajar, tetap menjadi jembatan antara ilmu pengetahuan dan pengabdian kepada rakyat.
Terima kasih, Kando. Selamat atas pencapaiannya.
Gelar itu pantas Anda sandang, bukan sebagai mahkota, melainkan sebagai bekal untuk terus berkarya. Gurubesar memang guru yang besar. Dan Anda adalah buktinya
