04 Oktober 2026

IN MEMORIAM: MARWAN L-TB



"Selamat jalan senior baik, pejuang lingkungan dari Nilo Dingin."


Marwan, demikian panggilan pendekku untuknya. Sosok yang pertama kali kukenal jauh sebelum Lembaga Tiga Beradik (LTB) berdiri. LTB kemudian tumbuh menjadi bagian penting dari keluarga besar Walhi Jambi. Perjalanan panjang itu dimulai dari perkenalan kami melalui Bucek (Eko Waskito), yang kemudian dipercaya menjadi Ketua Dewan Daerah Walhi Jambi (Board Walhi Jambi). Dari tangan Bucek, saya tahu bahwa Marwan bukan sekadar nama, melainkan sosok yang mengakar kuat pada tanah dan masyarakatnya.


Kedekatan kami semakin intensif ketika LTB, Walhi Jambi, Pundi Sumatera, dan Warsi bergabung dalam wadah PMKM. Saat itu, kami mengusulkan sebuah gagasan besar: Hutan Desa di 17 desa dengan luas mencapai 49.508 hektar. Ini bukan angka yang kecil. Ini adalah salah satu lanskap hutan desa terluas di Indonesia. Sebuah mahakarya yang lahir dari keberanian dan visi besar untuk masa depan.

Namun, perjuangan sebesar itu tidak pernah berjalan mulus. Teror demi teror terus terjadi. Belum lagi "bully" dari berbagai pihak yang terus mempertanyakan dan menantang eksistensi hutan desa. Tekanan itu datang dari segala arah, mencoba menggoyahkan langkah kami. Tetapi, dari sanalah salah satu konsep lahirnya Perhutanan Sosial mulai menemukan bentuknya. Apa yang dulu kami rintis kini menjadi maqom, sebuah rujukan, dan terus menjadi trending topic hingga saat ini.

Di tengah tekanan, teror, bahkan bully yang tak henti, saya selalu melihat sosok Marwan dengan ketenangannya. Ia tidak pernah kehilangan keseimbangan. Konsistensi yang tegas, tenang, namun pantang mundur—itulah yang membuat saya yakin. Bahwa perjuangan ini memerlukan keyakinan, dan Marwan adalah salah satu pilar keyakinan itu.


Menjelang awal tahun, dalam kesempatan monev program GCF, saya menemani teman-teman keliling Jambi. Di sela perjalanan, kami sempat mampir untuk salat Magrib di Masjid Raya Pasar Bawah. Tiba-tiba, seseorang dengan motor dinas—motor dinas kades—menghampiri. "Bang," katanya sambil tertawa. Spontan aku berteriak, "Woii, Pak Kades!" Kami pun tertawa lepas. Kami bercerita panjang tentang nostalgia usulan hutan desa, mengenang masa-masa penuh perjuangan yang kini membuahkan hasil.


Namun, di sela-sela cerita itu, sempat kudengar suara lirihnya, "Mampir, bang." Sebuah pesan yang sayangnya belum sempat kutunaikan. Kini, pesan itu menjadi utang yang tak akan pernah bisa kubayar, sebuah kenangan yang menghangat sekaligus mengiris hati.


Alangkah kagetnya saat melihat berbagai status di Facebook. Innalillahi wa innailaihi raji'un. Sungguh, kami kehilangan seorang yang kokoh mempertahankan prinsip. Sebuah teladan di tengah dunia yang begitu hipokrit. Ia berdiri tegak di atas kebenaran, tak tergoyahkan oleh arus.

Selamat jalan, sobat. Keteladanan dan konsistensimu mengajarkan kami arti pentingnya nilai-nilai perjuangan. Engkau telah menunaikan tugas dengan baik. Terima kasih untuk semua dedikasi, ketenangan, dan keberanian yang kau wariskan.


Allahummaghfirlahu warhamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu. Semoga almarhum diberikan kelapangan kubur, diampuni khilafnya, dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan serta keikhlasan.


Al Fatihah